Disrupsi, Bonus Demografi, dan Indonesia Emas 2045

Disrupsi, Bonus Demografi, dan Indonesia Emas 2045

Pada Pidato Kenegaraan tanggal 16 Agustus 2021 di depan Sidang Tahunan MPR, Presiden Joko Widodo mengatakan, “Di tengah dunia yang penuh disrupsi sekarang ini, karakter berani untuk berubah, mengubah, dan mengkreasi hal-hal baru, merupakan fondasi untuk membangun Indonesia Maju.”

Kata ‘disrupsi’ yang dimaksud oleh Presiden mengacu pada dua hal, kemajuan IT dan pandemi Covid-19. Ini tantangan bagi masyarakat Indonesia untuk berani berubah, berubah menjadi lebih kreatif dan lebih produktif. Namun pertanyaannya sekarang, apakah ‘karakter berani’ itu sudah terbangun di masyarakat Indonesia?

Bila kita mencermati sejarah dan budaya Bangsa Indonesia, karakter ‘berani’ sudah lama terbangun. Karakter ‘berani’ yang melekat pada jiwa bangsa Indonesia pada dasarnya sudah ada sejak dahulu kala. Sebab jika tidak, Indonesia tidak akan menjadi bangsa yang merdeka, melepaskan diri dari penjajahan. Karakter ‘berani’ dalam budaya Bangsa Indonesia merupakan suatu keniscayaan.

Hanya saja, seiring dengan perjalanan sejarah pasca kemerdekaan, melalui berbagai peristiwa politik dan pemerintahan represif selama lebih dari tiga dekade, karakter ‘berani’ ini seperti terkubur. Keberanian yang terpendam dalam kotak pandora ini harus dikeluarkan dan ditumbuhkan lagi. Caranya? Reformasi di segala bidang, kemudian diimplementasikan dalam pembangunan masyarakat Indonesia.

Masyarakat yang berani berubah ke arah produktif, tentu harus difasilitasi oleh pemerintah. Antara lain melalui program-program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Dalam waktu yang bersamaan juga digulirkan juga program-program untuk membentuk sumber daya manusia yang unggul, tangguh, dan kompeten.

Ke depan, tantangan dan kompetisi yang dihadapi Bangsa Indonesia jauh lebih kompleks dibanding masa-masa sebelumnya. Pesatnya perkembangan Teknologi Informasi (IT) dan adanya Pandemi Covid-19 membuat revolusi IT berlangsung sangat drastis. Sehingga, semua unit produksi harus menyesuaikan diri dengan perkembangan IT.

Revolusi IT membuka akses bagi kita ke dunia global menjadi sangat mudah, efisien, dan fleksibel. Dengan adanya akses itu harusnya bisa kita manfaatkan bersama, sehingga masyarakat bisa kompatibel dengan perkembangan IT dan sesuatu yang tidak terprediksi, seperti Covid-19. Saat ini kompatibilitas itu belum tercapai. Tapi dengan sumber daya manusia yang unggul dan tangguh akan bisa belajar cepat mencapai kompatibiltas yang maksimal.

Salah satu tantangan terbesar di masa depan adalah disrupsi akibat kemajuan teknologi informasi, di mana peran produk berbasis IT dalam kehidupan makin besar. Konsekuensi lanjutannya adalah shifting pemanfaatan tenaga kerja manusia digantikan oleh applikasi komputer, mesin, dan robot.

Sementara pada periode 2025 – 2035 Indonesia memasuki periode puncak ‘Bonus Demografi’, prosentase peduduk produktif (usia 15 – 65) lebih dari 70% dari jumlah penduduk. Ini peluang besar, sekaligus ancaman besar. Pada periode bonus demografi, jumlah tenaga kerja produktif yang berlimpah akan menjadi keuntungan besar, jika lapangan kerja baru bisa menyerapnya. Tapi akan menjadi sumber persoalan sosial, jika daya serap lapangan kerja tidak memadai.

Harus diakui, persoalan terbesar saat ini adalah rata-rata kualitas dan kompetensi SDM yang relatif masih rendah. Sementara SDM unggul kuantitasnya masih terbatas, persebarannya pun tidak merata. Akibatnya, secara nasional produktivitas tenaga kerja kita masih relatif rendah dan sulit meningkat. Di sektor hulu, institusi pendidikan belum mampu menjawab tantangan peningkatan produktivitas dan kualitas tenaga kerja. Gap antara kebutuhan dan penyediaan tenaga kerja unggul masih lebar.

Era baru ekonomi dan disrupsi teknologi mengubah karakteristik permintaan tenaga kerja. Di era Revolusi Industri 4.0 tenaga kerja yang tidak adaptif dengan tuntutan yang terus berkembang, lambat laun akan tersingkir dari dunia kerja serta kehilangan akses untuk menikmati kemajuan zaman. Era Revolusi Industri 4.0 memunculkan beragam profesi baru yang tidak ada sebelumnya. Jadi, meningkatkan kompetensi: kemampuan akademik, penguasaan teknologi, penguasaan aplikasi komputer, internet dan jaringan, serta membangun network adalah satu keharusan.

Bagaimanapun kita telah bertekad untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, rakyat Indonesia sudah mencapai kemakmuran, dan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi ke-5 di dunia. Apapun kondisi hari ini, kita harus optimistis. Waktu yang tersisa harus dimanfaatkan untuk melahirkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul, tangguh, dan kompetitif. Menyelesaikan masalah-masalah yang mendasar di Tanah Ibu pertiwi, seperti isu kesenjangan ekonomi, korupsi, dan kemiskinan. Jika itu dilakukan dengan konsisten, yakinlah Indonesia Emas 2045 bisa terwujud.

Jakarta, 20 Agustus 2021

Totok Sediyantoro
Sekjen Lembaga Kajian NawaCita

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2