Tolak Bala Pageblug

Mbah Modin

Siapapun yang baru pertama kali berjumpa dengan beliau besar kemungkinan akan punya pendapat yang sama dengan saya, tentang sosok laki-laki sepuh ini. Adem.

Senyumnya selalu meronai wajahnya yang gurat-gurat keriput, tatapannya teduh seakan mewakili raut kesabaran dan kebijakan dalam menjalani hidup. Sekilas mirip dengan Mbah Moen, Kyai kharismatik Rembang.

Didesaku ini tidak banyak yang tahu nama aslinya, pria yang sudah sangat sepuh ini, beliau hanya dipanggil Mbah Modin, sesuai dengan profesinya yakni sebagai Modin atau di daerah lain disebut Pak Kaum, yang tugasnya antara lain melayani urusan bidang kerohanian khususnya agama Islam.

Tugas seorang Modin menurutku sangat vital, karena menangani tiga fase sakral dalam siklus kehidupan manusia yakni saat kelahiran, pernikahan, dan kematian, dia selalu berada pada saat momen penting tersebut yang biasanya memimpin doa.

Selain itu juga, sering kali Mbah Modin di panggil untuk acara syukuran, pengajian, sunatan dan paling laris diundang pada saat seperti sekarang ini Sadranan, yakni Tradisi dilakukan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, yang berupa rangkaian upacara Ziarah kubur, bersih makam dan mendoakan arwah leluhur atau kerabat yang sudah meninggal.

Mbah Modin RNU (Real Name Unknown) ini kadang membuatku berfikir, apakah beliau sudah menyiapkan kader sebagai penggantinya kelak? Atau kalau sudah ada mempersiapkan apakah kader itu akan “sehebat’ mbah modin ini? Karena cerita kehebatan mbah modin itu cukup melegenda khususnya di desaku ini.

Sudah menjadi rahasia umum, apabila warga yang anaknya sumer sumer (panas dingin), menggigau atau kesurupan biasanya akan memanggil mbah modin dan beliau tidak pernah menolak dan anehnya dia selalu menolak halus kalau dibayar hanya menyarankan si empunya untuk infaq ke Masjid atau menyumbang yatim piatu.

Dia hanya datang membawa sebotol air yang diambil dari padasan di langar (mushola) di depan rumahnya, dan biasanya hanya sebentar proses pengobatan karena hanya di doakan kemudian wajah dan rambutnya diusap dengan air dan sisanya diminumkan dari botol tadi tak lama kemudian tertidur dan sembuh. Amazing.

Pernah aku tanya, “Mbah, apakah air ini ada ramuan atau jampi-jampinya?”
Beliau malah tertawa lucu karena sepertinya gigi sudah tanggal semua ,” mboten wonten mas, nggih ming banyu tawa kemawon ( ndak ada mas, ya cuman air tawar biasa)

Rupanya beberapa minggu kemudian, saya mendapat jawaban dari pak RT sewaktu ronda, bahwa Mbah Modin itu selalu melakukan ‘ritual’ paling tidak 5x dalam sehari. Ritual itu adalah umak umik dengan tangan yang menengadah yang lumayan lama sebelum sebelum mengambil air wudu di padasan tersebut.

Sontak saya jadi teringat postingan di group WA beberapa waktu yang lalu tentang penelitian seorang ilmuwan Jepang yang sangat terkenal, message from the water bahwa air itu hidup karena partikel air itu menjadi “indah dan mengagumkan” ketika mendapat reaksi positif seperti doa, sapa yang lembut, kata kata yang manis dan sebagainya.

Namun sebaliknya partikel air itu akan menjadi buruk dan tidak sedap dipandang mata apabila mendapat reaksi negative disekelilingnya, seperti umpatan kotor, bentakan kasar dan seterusnya.

Sepertinya Mbah Modin jauh lebih dulu mempraktekan dibandingakan dengan Profesor Masaru Emoto, hanya saja mungkin beliau bingung ketika ditanya teori message from the water tersebut.

Sebenarnya banyak cerita tentang sepak terjang dan “kehebatan” mbah modin tersebut, katanya dahulu waktu mudanya pernah melumpuhkan maling yang sering berkeliaran didesa itu dengan seorang diri. Bukan diajak berduel, tapi diajak ngobrol dan disuruh minum air dan makan ketela rebus, rupanya maling tersebut besoknya sudah tobat dan kemudian menjadi tukang bersih-bersih di masjid desa.

Mbah Modin itu hanya mempunyai anak tunggal cewek yang sekarang ikut suaminya di tetangga desa, praktis dia hanya tinggal berdua dengan istrinya di rumah kunonya yang cukup asri dan luas.

Namun di belakang mushola ada beberapa kamar yang dihuni oleh beberapa mahasiswa ISI Yogyakarta, ada 4 mahasiswa dan anehnya kesemuanya itu dari Indonesia timur.

Mereka sepertinya betah tinggal disitu, bukan karena memang tidak dipungut biaya tapi yang membuat saya kadang berfikir apakah mereka itu tidak terganggu ketika kumandang Azan tiba? Apakah mereka sudah terbiasa walaupun keyakinan mereka barangkali berbeda?

Mbah Modin barangkali kalau ditanya apakah artinya toleransi, maka jawabanya toleransi itu makanan terbuat dari apa? Karena toleransi baginya adalah ‘konsumsi’ sehari yang sudah lama di”kunyah dan ditelan’ dalam seumur dia menjalani hidup.

Seringkali dalam ‘sesorah’ sebelum mengisi pengajian dia mengutip ujaran-ujaran jawa, urip ojo dumeh (hidup jangan berlagak atau mentang-mentang), ojo mabedakake marang sapadha-pada
(Hargai perbedaan, jangan membeda-bedakan sesama manusia) dan lain sebagainya.

Urip Iku Mung Mampir Ngombe, mulane goleko Banyu Apikulan Warih, Golek Geni Adedamar Karono Urip Iku Urup, ngaten njih mbah? (hidup itu hanya sebentar, sekedar mampir minum, makanya carilah penghidupan dengan cara yang baik, cari air dengan pikulan mencari api dengan pelita, karena hidup itu adalah menyala, yang sinarnya memberi manfaat bagi orang disekitarnya, gitu ya mbah?)

Ketika sejenak menoleh kedalam kenyataan hidup sekarang ini, kadang saya bergetar bahwasanya sosok Mbah Modin adalah sepertinya manusia langka, betapa banyak yang setiap hari upload dan forward do’a doa yang mungkin belum tentu dibaca di mengerti dan diamalkanya.

Lihatlah tv, youtube atau pantaulah di dunia linimasa di “ustad karbitan” yang kerjanya mengamen doa, gak peduli konten atau kualitas yang penting banyak komen, subscriber, click bite dan followernya.

Wahyu I Widodo

Kasongan, Yogyakarta 4/4/21

Ps: nama asli mbah modin itu Jumaroh Hadi, saya tahu karena kemarin PBB nya tertukar dengan punya saya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry