Partai dan Takhayul

Partai dan Takhayul

Coba tunjuk partai mana yang nawaitunya buat bangsa dan negara. Nggak usah 100 % karena kita mahfum disana juga ada ruang cari makan dengan sasaran budget pembangunan dari APBN.

Makanya di Senayan itu ada banyak broker, pengusaha dengan hidung Pinokio. Faktanya kan sudah jelas ada berapa yang sekarang alumni Senayan sedang barberque-an di Sukamiskin, atau ada yang masih di KPK.

Parlemen itu kan pembuat UU, salah satu yang mereka jaga harusnya UU pemilu. Kenapa? Ya karena dalam UU itu yang bisa menghentikan maju mundurnya ruh bangsa ini.

Mereka juga harusnya mengamati pejabat mana yang masuk standar pemimpin masa depan untuk kemudian bisa dijadikan kandidat agar kelangsungan pemimpin yang baik bisa diestafetkan dari orang baik ke orang baik berikutnya, bukan hanya rebutan kekuasaan.

Kita baru lepas dari cengkeraman orba plus SBY, setelah 42 tahun berkuasa yg hanya meninggalkan luka menganga.

Hadirnya Jokowi yang kata Megawati sebagai petugas partai, dan faktanya petugasnya yang bernama Jokowi itulah yg mengokohkan PDIP. Bukan sebaliknya.

Sumber gambar: Kontan.co.id

Luar biasanya orang yang berjiwa besar dan mulia ini selalu tahu membalas budi, tak satupun dia komentari omongan yang sebenarnya punya kadar melecehkan.

Andai parlemen itu bukan rumah kepentingan kekuasaan dan cari makan serta kaya, maka dengan ukuran apa saja tentang keberhasilan pemimpin di depan matanya adalah Jokowi yang dalam kurun waktu 7 tahun berjalan telah mengubah Indonesia dari lorong kegelapan ke arah yang jelas dan terukur. Baik dari segi pembangunan dan pemerataan yang diamanahkan.

Di gedung sakral itu ada 575 manusia berpendidikan berkumpul dari mulai profesor, doktor, paling rendah SMA. Dan pasti IQnya rata-rata di atas Gorila, kalau EQ dan SQ nya belum pernah didata. Tapi mestinya juga super, karena mereka adalah manusia pilihan yang mewakili 267 juta manusia Indonesia.

Keterwakilan inilah yang harusnya difaktakan, bukan disamarkan.

Kembali kepada parlemen yang diisi oleh partai, apakah benar mereka memikirkan negara dan rakyatnya, apa yang mereka perbuat. Andai mereka melihat progress kerja Jokowi harusnya mereka memikirkan keterlangsungan setelahnya.

Apakah sudah ada pengganti yg mumpuni, bagaimana kalau UU di revisi agar Jokowi bisa 3x, jangan ditanya yang bersangkutan pastilah tak bersedia karena dia bukan manusia kemaruk jabatan apalagi harta. Tapi kalau mayoritas suara parlemen sebagai wakil rakyat memintanya demi negara, Jokowi pasti bersedia.

Tapi sekarang kan tidak terjadi, malah UU nya di kunci bak kitab suci. Kemudian rame-rame jual diri pasang Billboard di tengah situasi pandemi. Bukan dapat simpati malah dicibiri sampai ada sobekan banner-nya dijadikan dinding jamban, ini kan memalukan.

PDIP sekarang seperti partai lupa diri, tapi memang ini resiko partai dinasti, sama seperti Demokrat. Masyarakat membacanya PDIP mau memaksakan Puan dan Demokrat memaksakan AHY. Dua-duanya anak ketum partai. Kalau model memaksakan kehendak tanpa mengukur kapasitas bisa kandas dan terhempas eksesnya kehidupan rakyat yg terkelupas.

Ingat ya, semua yang pengen jadi presiden RI, yang kalian gantikan adalah jejaknya Jokowi. Kapasitas kalian harus mumpuni. Kalaupun kalian menang dengan akal-akalan, pasti jadi bulan-bulanan di tengah jalan. Sekarang rakyat sudah melek politik diajari kalian juga dari perilaku kalian sehari-hari melalui medsos yang makin Joss.

Kembali kepada partai yang begitu sensual bak wanita seksi pada saat menjelang pemilu, partai pada kemayu. Begitu selesai pemilu langsung jadi pelacur jualan sana sini untuk kepentingannya sendiri. Kondisi diatas di faktakan oleh kelakuan mereka. Dari mulai minta vaksin duluan, isoman di hotel, dll.

Ada kecenderungan menihilkan pihak lain, dan menganggap diri kalis dari kesalahan.

Bak panggung gemerlap kepentingan politik dan media saling menyuapi menjadi kronika bahwa begitu buruknya hal-hal yang merugikan rakyat yg diputuskan di gedung sakral itu terus terjadi. Seperti halnya kuncian UU pemilu yg di berhalakan saat ini sehingga harapan rakyat yg menginginkan Jokowi 3x tak terpenuhi.

Indonesia sebuah negara dan menjadi properti partai yg notabene punya kepentingan dalam hal kekuasaan bukan tujuan yang bisa mensejahterakan.

Rakyat menjadi lahan mainan kebusukan akhlak.

Tidak mungkin menuliskan sejarah Indonesia tanpa mengakui bahwa partai dan DPR adalah sebuah tema, sebuah titik tumpu sejarah Indonesia. Partai tidak hanya keharusan tapi juga legitimasi dan tradisi.

Gambar milik Cara Pandang

Di gedung sakral itu bercokol 5 partai nasionalis, dan 4 partai agama yg mengokohkan diri masing-masing mewakili rakyat. Padahal raihan suara keterwakilan tertingginya hanya 27 juta suara ( PDIP ) dan suara terkecilnya 6 juta suara ( PPP ). Keduanya hanya mewakili 10 dan 2 % rakyat Indonesia, bukan pemilih lho ya.

Sebenarnya ada kecemasan dan kebingungan masyarakat Indonesia pasca Jokowi, apakah para penjual diri sebagai pengganti itu bisa mumpuni. Kita rindu demokrasi dan mencari makna di dalamnya, bukan sekedar di jadikan nama partai yg tidak melakukan apa-apa untuk rakyat Indonesia.

Apakah rakyat ini masih hidup di mata partai atau sudah menjadi mayat yg di gagahi oleh “necrofilia” (nafsu seksual terhadap mayat). Sampai ejakulasinya tercapai, sementara mayat tetaplah mayat yang tidak merasakan apa-apa.

Jokowi adalah katalis penyebar kebaikan yang sedang dirasakan rakyat saat ini. Jiwa kita rela digagahi oleh segala bentuk rencana besarnya karena memang jiwa ini sudah lama mati. Bila sekarang ada rasa hidup dari mati suri, semata-mata karena Jokowi bisa menemukan urat geli yg membuat rakyat bergairah lagi.

Kondisi ini harusnya bisa dijaga bukan dimatikan hanya karena kepentingan partai atau keturunannya. Ini bukan sebuah suaka bahwa partai bisa suka-suka, dan kami bahkan mungkin Tuhan bisa tidak suka.

Keberadaan partai tidak bisa menerapkan eksepsionalisme, karena rakyat dan negara ini tidak mau lagi dijadikan lahan perubahan-perubahan ” brutal ” oleh kepentingan personal atau golongan.

Cukuplah sejarah masa lalu, evolusi kebaikan yg sedang berjalan bersama Jokowi saat ini tidak boleh berhenti. Atau dihentikan oleh penggantian pimpinan yang tidak punya kemampuan.

Jokowi telah membuat manuskrip, karya-karya penyulaman yang di dalamnya tertata rapi benang-benang sutera pemerataan dengan begitu rekat terjalin. Untuk itu jangan ada niat memisahkannya.

SELAMAT ULANG TAHUN KE 76 INDONESIAKU. SEMOGA SELALU DIBERI KESEHATAN LAHIR DAN BATIN.

Sidoarjo, 13 Agustus 2021,
Iyyas Subiakto

(isi Artikel Pemikiran menjadi tanggung jawab Penulis)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2