banner 728x250

Menghidupkan Kembali Lingkar Gotong Royong sebagai Penopang Kehidupan Manusia

banner 468x60

Jakarta, Charta.id – Aris Tama ketua umum (ARMADA) aliansi rakyat mahasiswa anak daerah mengatakan Di tengah masyarakat yang semakin terhubung secara digital, manusia justru kian rentan merasa sendirian. Ritme hidup yang cepat, tekanan ekonomi, serta tuntutan produktivitas sering membuat relasi antarmanusia menjadi dangkal. Banyak orang tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam karena kehilangan support system yang sehat.

Menurut Aris Dalam konteks ini, situasi ini sejatinya paradoks. Bangsa ini memiliki warisan sosial bernama gotong royong, sebuah nilai yang sejak lama menjadi penopang kehidupan bersama. Namun dalam praktik sehari-hari, gotong royong kerap direduksi menjadi aktivitas seremonial atau sekadar kerja kolektif saat dibutuhkan. Padahal, pada hakikatnya, gotong royong adalah sistem pendukung hidup manusia yang bersifat mendasar.

Example 300x600

Manusia tidak hidup sebagai individu yang sepenuhnya berdiri sendiri. Sejak lahir, manusia bertumbuh melalui relasi: keluarga, lingkungan, dan komunitas. Dukungan emosional, rasa aman, serta pengakuan sosial merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat digantikan oleh pencapaian material. Ketika relasi-relasi ini melemah, manusia mudah terjebak dalam kesepian, kelelahan mental, dan krisis makna.

Ketua umum ARMADA tersebut mengatakan Di sinilah pentingnya memandang gotong royong secara lebih utuh. Konsep Lingkar Gotong Royong menawarkan cara pandang bahwa gotong royong bukan sekadar tindakan membantu, melainkan jejaring relasi yang saling menopang. Disebut lingkar karena relasi ini setara, timbal balik, dan berkelanjutan. Setiap orang berada dalam posisi yang sama: kadang memberi, kadang menerima.

Lingkar gotong royong hadir dalam berbagai lapisan kehidupan. Pada lingkar terdekat, ia hidup dalam keluarga dan sahabat, tempat seseorang dapat menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi. Pada lingkar komunitas, gotong royong tumbuh melalui tetangga, kelompok kerja, dan organisasi sosial. Sementara pada lingkar yang lebih luas, ia tercermin dalam solidaritas sosial dan kebijakan publik yang berpihak pada kemanusiaan.

Ketika lingkar-lingkar ini berfungsi dengan baik, manusia memiliki tempat untuk kembali, berbagi, dan memulihkan diri. Sebaliknya, ketika lingkar ini rapuh, individu dipaksa menanggung beban hidup sendirian. Tidak mengherankan jika persoalan kesehatan mental kian mengemuka di tengah masyarakat modern.

Banyak masalah kesehatan mental hari ini bukan semata-mata persoalan pribadi, melainkan gejala sosial. Kesepian kronis, kelelahan emosional, dan rasa tidak bermakna sering muncul karena manusia kehilangan ruang aman untuk didengar dan diterima. Lingkar Gotong Royong menyediakan ruang tersebut melalui kehadiran manusia lain yang peduli dan sadar.

Aris menilai Pengalaman berbagai krisis menunjukkan bahwa kekuatan utama masyarakat Indonesia terletak pada solidaritas warganya. Dalam situasi bencana atau kesulitan ekonomi, gotong royong kerap menjadi mekanisme pertama yang bekerja sebelum sistem formal hadir sepenuhnya. Hal ini menegaskan bahwa gotong royong bukan romantisme masa lalu, melainkan fondasi ketahanan sosial yang relevan hingga hari ini.

Tantangan ke depan bukan sekadar menjaga gotong royong sebagai slogan budaya, melainkan menghidupkannya kembali sebagai praktik sadar. Di keluarga, komunitas, tempat kerja, hingga dalam perumusan kebijakan publik, gotong royong perlu dipahami sebagai investasi sosial jangka panjang.

“Menguatkan Lingkar Gotong Royong berarti menjaga martabat manusia. Setiap individu tidak diposisikan sebagai objek bantuan, melainkan sebagai subjek yang berdaya dan bermakna bagi sesamanya. Di tengah zaman yang kian terfragmentasi, menghidupkan kembali gotong royong bukan hanya soal merawat tradisi, tetapi tentang merawat kemanusiaan itu sendiri”. Ujar Aris.

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *