banner 728x250

Langkah Haru Multazam: Haji di Usia 16 Tahun Demi Amanah Orang Tua

banner 468x60

Lampung Utara, Charta.id – Pagi itu, suasana di halaman Islamic Center Kotabumi dipenuhi peluk haru dan doa yang lirih. Ratusan keluarga mengantar orang-orang tercinta menuju perjalanan panjang ke Tanah Suci. Di antara wajah-wajah yang dipenuhi harap, tampak seorang remaja dengan sorot mata tenang namun dalam—Muhammad Multazam Nabil Assyaf, 16 tahun.

Di usianya yang masih belia, Multazam berdiri bukan sekadar sebagai jemaah calon haji termuda tahun 2026 dari Kabupaten Lampung Utara. Ia membawa sesuatu yang jauh lebih besar: amanah dari orang tua yang telah tiada.

Example 300x600

Berasal dari Desa Mulang Maya, Kecamatan Kotabumi Selatan, Multazam berangkat bersama sang ibunda, Fitri Maya. Kesempatan berhaji yang ia dapatkan bukan melalui antrean panjang yang lazim, melainkan pelimpahan kursi haji dari orang tuanya. Amanah itu kini ia pikul dengan kesadaran yang tak biasa untuk seusianya.

Dengan suara pelan dan mata yang tak sepenuhnya mampu menyembunyikan haru, Multazam mengungkapkan alasan di balik langkah besarnya.

“Ini bukan hanya perjalanan ibadah. Ini tentang melanjutkan cita-cita orang tua,” ujarnya.

Sebagai pelajar di Pondok Pesantren SMA Darul Hidayah Kemiling, Multazam terbiasa dengan kehidupan disiplin dan nilai-nilai keagamaan. Namun, perjalanan haji baginya adalah babak baru—sebuah ruang pembuktian bahwa bakti kepada orang tua tidak berhenti oleh batas kehidupan.

Di tengah arus zaman yang sering menempatkan generasi muda dalam sorotan yang kurang menggembirakan, kisah Multazam hadir sebagai penyejuk. Ia menunjukkan bahwa nilai tanggung jawab, kesetiaan pada amanah, dan kedalaman spiritual tetap hidup di kalangan remaja.

Sementara itu, sebanyak 398 jemaah calon haji asal Lampung Utara resmi dilepas oleh Bupati Hamartoni Ahadis. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan proses pembentukan karakter.

“Haji adalah madrasah kehidupan—tempat belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan kebersamaan,” ujarnya.

Namun, di balik seremoni resmi dan pesan-pesan formal itu, ada cerita-cerita kecil yang justru menyimpan makna besar. Kisah seperti yang dijalani Multazam menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya tentang siapa yang berangkat, tetapi juga tentang niat dan nilai yang dibawa.

Di antara langkah-langkah yang akan menapaki Tanah Suci, Multazam berjalan dengan satu tujuan sederhana namun mendalam: menunaikan amanah dan menghadiahkan doa terbaik untuk orang tuanya.

Pelepasan jemaah hari itu pun bukan hanya tentang keberangkatan, tetapi juga tentang harapan yang dititipkan. Harapan agar setiap langkah di Tanah Suci menjadi saksi ketulusan, dan setiap doa yang terucap menjadi jembatan antara yang hidup dan yang telah lebih dulu pulang.

Di usia yang masih sangat muda, Multazam mengajarkan satu hal yang sering terlupakan—bahwa kedewasaan tidak selalu soal umur, melainkan tentang keberanian memikul makna dalam hidup.

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *