Lampung, Charta.id – Grafik Terus Naik, Anggaran Terus Mengalir, Program Terus Berganti. Namun Selama Belasan Tahun, Peringkat Pendidikan Lampung Nyaris Tidak Bergerak. Sudah Saatnya Berani Mengakui bahwa Masalahnya Bukan Lagi Sekadar Anggaran, Melainkan Efektivitas Kebijakan.
Selama lebih dari satu dekade, pendidikan selalu ditempatkan sebagai prioritas pembangunan. Amanat konstitusi yang mewajibkan alokasi minimal 20 persen anggaran untuk sektor pendidikan telah diterjemahkan ke dalam kebijakan nasional maupun daerah.
Triliunan rupiah setiap tahun dialokasikan melalui APBN dan APBD. Sekolah dibangun, ruang kelas direhabilitasi, guru dilatih, bantuan pendidikan diperluas, digitalisasi pembelajaran diperkenalkan, dan berbagai program baru silih berganti hadir dengan nama serta jargon yang berbeda.
Provinsi Lampung pun mengikuti arus besar tersebut. Hampir setiap tahun pemerintah daerah meluncurkan program pendidikan baru. Infrastruktur pendidikan terus bertambah. Akses internet semakin luas.
Perguruan tinggi berkembang. Anggaran pendidikan terus tersedia. Jika hanya melihat aktivitas pembangunan, pendidikan Lampung tampak bergerak maju.
Namun pembangunan tidak pernah cukup dinilai dari banyaknya kegiatan.
Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah hasil.
Dan hasil itu tercermin dalam data.
Ketika data Badan Pusat Statistik (BPS) dibuka, muncul kenyataan yang sulit disangkal. Pendidikan Lampung memang mengalami kemajuan, tetapi kemajuan itu berjalan terlalu lambat sehingga selama belasan tahun posisi Lampung hampir tidak pernah mampu keluar dari kelompok bawah nasional.
Di situlah persoalan sebenarnya.
Belasan Tahun Berjalan, Peringkat Tetap di Bawah
Data BPS menunjukkan Harapan Lama Sekolah (HLS) Lampung meningkat dari 11,92 tahun pada 2012 menjadi 12,79 tahun pada 2025. Selama tiga belas tahun kenaikannya hanya 0,87 tahun.
Pada saat yang sama, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) meningkat dari 7,30 tahun menjadi 8,61 tahun, atau bertambah 1,31 tahun.
Sekilas angka tersebut tampak menggembirakan.
Namun pembangunan tidak bisa dibaca dari angka absolut semata.
Karena semua provinsi juga mengalami peningkatan.
Yang membedakan adalah kecepatan.
Dan ketika kecepatan dibandingkan, Lampung justru tertinggal.
Pada tahun 2012, Harapan Lama Sekolah Lampung berada di peringkat ke-29 nasional.
Tahun 2013 masih berada di peringkat ke-29.
Tahun 2014 turun menjadi peringkat ke-30.
Peringkat itu bertahan hingga 2017.
Kemudian sejak 2018 hingga 2025, Lampung kembali turun dan bertahan di peringkat ke-31 dari 38 provinsi.
Artinya, selama delapan tahun berturut-turut, posisi Lampung sama sekali tidak berubah.
Lebih dari itu, selama 13 tahun terakhir, Lampung tidak pernah sekalipun masuk ke kelompok 25 besar nasional.
Tidak pernah mendekati sepuluh besar.
Bahkan tidak pernah keluar dari papan bawah.
Kondisi Rata-rata Lama Sekolah juga memperlihatkan pola yang hampir sama.
Sejak 2012 hingga 2025, posisi Lampung hanya bergerak di kisaran peringkat ke-27 hingga ke-28 nasional.
Selama lebih dari satu dekade, tidak pernah terjadi lonjakan yang mampu mengangkat posisi Lampung secara signifikan.
Fakta ini menyampaikan pesan yang sangat jelas.
Persoalannya bukan lagi apakah pendidikan Lampung meningkat.
Karena jawabannya memang meningkat.
Persoalannya adalah mengapa peningkatan tersebut tidak cukup cepat untuk mengejar provinsi lain.
Naik, Tetapi Tetap Tertinggal
Inilah ironi pembangunan pendidikan Lampung.
Grafiknya memang naik.
Namun peringkatnya tetap tertinggal.
Ibarat perlombaan lari, Lampung terus berlari. Tetapi pelari lain berlari lebih cepat. Akibatnya jarak tidak pernah benar-benar mengecil.
Selama tiga belas tahun, Harapan Lama Sekolah hanya bertambah sekitar sepuluh bulan.
Rata-rata Lama Sekolah hanya meningkat sekitar satu tahun tiga bulan.
Sementara provinsi lain bergerak dengan kecepatan yang lebih tinggi sehingga Lampung tetap berada di kelompok bawah.
Data tahun 2025 memperlihatkan kondisi tersebut secara nyata.
Harapan Lama Sekolah nasional mencapai 13,30 tahun, sedangkan Lampung hanya 12,79 tahun.
Rata-rata Lama Sekolah nasional berada pada 9,07 tahun, sedangkan Lampung baru 8,61 tahun.
Selisihnya memang kurang dari satu tahun.
Namun dalam persaingan antardaerah, selisih kecil itu cukup membuat Lampung berada di peringkat ke-31 untuk HLS dan peringkat ke-28 untuk RLS.
Dengan kata lain, Lampung bukan hanya tertinggal dari provinsi-provinsi maju seperti DKI Jakarta atau DI Yogyakarta, tetapi juga tertinggal dari banyak provinsi lain yang beberapa tahun lalu memiliki posisi yang relatif setara.
Alarm Bernama Gap 4,18 Tahun
Ada satu angka yang seharusnya menjadi perhatian serius.
Yakni selisih antara Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah yang mencapai 4,18 tahun.
Apa artinya?
Harapan Lama Sekolah sebesar 12,79 tahun menunjukkan bahwa seorang anak di Lampung diperkirakan memiliki peluang menempuh pendidikan hingga hampir lulus SMA.
Namun kenyataannya, rata-rata penduduk dewasa hanya memiliki lama sekolah 8,61 tahun.
Artinya, secara rata-rata masyarakat Lampung masih berpendidikan setingkat SMP.
Selisih lebih dari empat tahun tersebut bukan sekadar angka statistik.
Ia merupakan alarm bahwa peluang pendidikan belum sepenuhnya berubah menjadi capaian nyata.
Masih terlalu banyak anak yang tidak berhasil menyelesaikan pendidikan menengah.
Masih ada anak yang berhenti sekolah karena tekanan ekonomi.
Masih ada yang menikah pada usia dini.
Masih ada yang memilih bekerja sebelum lulus SMA.
Masih ada persoalan akses, mutu pembelajaran, dan motivasi belajar yang belum terselesaikan.
Inilah tantangan sesungguhnya.
Jangan Lagi Mengukur Keberhasilan dari Banyaknya Program.
Selama ini pembangunan pendidikan sering kali diukur dari banyaknya aktivitas.
Berapa ruang kelas dibangun.
Berapa sekolah direhabilitasi.
Berapa guru mengikuti pelatihan.
Berapa workshop dilaksanakan.
Berapa seminar diselenggarakan.
Berapa besar anggaran terserap.
Padahal masyarakat tidak merasakan manfaat dari banyaknya kegiatan.
Masyarakat merasakan hasilnya.
Apakah anak mereka berhasil lulus SMA?
Apakah lebih banyak yang masuk perguruan tinggi?
Apakah angka putus sekolah turun?
Apakah kualitas lulusan meningkat?
Apakah dunia kerja memperoleh tenaga kerja yang lebih kompeten?
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut belum menunjukkan perubahan yang signifikan, maka ukuran keberhasilan pembangunan pendidikan perlu dievaluasi.
Serapan anggaran bukanlah tujuan.
Program bukanlah tujuan.
Bangunan sekolah juga bukan tujuan.
Semuanya hanyalah alat.
Tujuan akhirnya adalah meningkatnya kualitas manusia.
Masalahnya Sudah Bersifat Struktural
Jika kondisi ini hanya berlangsung satu atau dua tahun, penyebabnya mungkin bersifat teknis.
Namun ketika kondisi serupa terjadi selama lebih dari tiga belas tahun, persoalannya tidak lagi sederhana.
Selama periode tersebut telah berganti kepala daerah.
Berganti kepala dinas.
Berganti kurikulum.
Berganti slogan.
Berganti program.
Tetapi hasil akhirnya hampir sama.
Peringkat Lampung tetap berada di kelompok bawah nasional.
Ini menunjukkan bahwa evaluasi tidak cukup dilakukan terhadap pelaksanaan program semata.
Yang perlu ditinjau adalah arah kebijakan secara menyeluruh.
Apakah seluruh program benar-benar berbasis data?
Apakah intervensi difokuskan pada wilayah dengan angka putus sekolah tertinggi?
Apakah pemerintah memiliki target yang jelas untuk menaikkan posisi Lampung secara nasional?
Ataukah selama ini keberhasilan hanya diukur dari naiknya grafik tahunan tanpa memperhatikan posisi relatif dibanding provinsi lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut layak dijawab secara terbuka.
Pendidikan Menentukan Masa Depan Lampung
Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah.
Ia menentukan kualitas tenaga kerja.
Produktivitas ekonomi.
Kemampuan menarik investasi.
Daya saing daerah.
Pendapatan masyarakat.
Kemiskinan.
Pengangguran.
Bahkan kualitas demokrasi.
Provinsi yang tingkat pendidikannya rendah akan lebih sulit menghasilkan tenaga kerja berdaya saing tinggi.
Investasi pun akan lebih selektif masuk.
Kesempatan kerja menjadi terbatas.
Kemiskinan semakin sulit diputus.
Inilah mengapa persoalan pendidikan tidak boleh dipandang sebagai urusan sektor pendidikan semata.
Ia adalah fondasi pembangunan daerah.
Saatnya Berani Mengubah Cara Berpikir.
Lampung sebenarnya tidak kekurangan modal.
Jumlah sekolah terus bertambah.
Perguruan tinggi berkembang.
Akses internet semakin luas.
Anggaran pendidikan tersedia setiap tahun.
Bonus demografi masih menjadi peluang besar.
Yang tampaknya masih perlu diperbaiki adalah bagaimana seluruh sumber daya tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan yang benar-benar mampu mempercepat peningkatan kualitas pendidikan.
Pendidikan tidak boleh lagi diukur dari banyaknya kegiatan.
Tidak cukup menghitung jumlah pelatihan.
Tidak cukup menghitung jumlah seminar.
Tidak cukup menghitung jumlah ruang kelas baru.
Ukuran keberhasilan harus bergeser pada hasil akhir.
Berapa banyak anak yang bertahan hingga lulus SMA.
Berapa banyak yang melanjutkan kuliah.
Berapa angka putus sekolah berhasil ditekan.
Berapa lama rata-rata masyarakat mengenyam pendidikan.
Dan yang tidak kalah penting, seberapa jauh Lampung berhasil memperbaiki posisinya dibanding provinsi lain.
Penutup
Data pendidikan Lampung sepanjang 2012–2025 memberikan pesan yang sangat tegas. Memang ada kemajuan. Namun kemajuan tersebut belum cukup untuk mengangkat Lampung dari papan bawah nasional.
Selama tiga belas tahun, Harapan Lama Sekolah hanya naik 0,87 tahun, Rata-rata Lama Sekolah naik 1,31 tahun, sementara posisi Lampung tetap berkisar di peringkat 29–31 nasional untuk HLS dan peringkat 27–28 nasional untuk RLS. Fakta ini menunjukkan bahwa peningkatan yang terjadi belum mampu mengejar laju provinsi-provinsi lain.
Editorial ini bukan untuk mengabaikan dedikasi para guru, kepala sekolah, maupun pemerintah yang telah bekerja membangun pendidikan. Sebaliknya, data harus dijadikan cermin yang jujur agar keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya program atau besarnya anggaran yang terserap, melainkan dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.
Selama rata-rata penduduk dewasa Lampung masih berpendidikan setingkat SMP, selama kesenjangan antara harapan dan kenyataan masih mencapai 4,18 tahun, dan selama posisi Lampung masih bertahan di papan bawah nasional, maka pekerjaan rumah pembangunan pendidikan belum selesai. Rapor pendidikan 2025 seharusnya menjadi momentum untuk tidak lagi sekadar berbangga karena grafik naik, melainkan berani mengubah strategi agar Lampung benar-benar mampu keluar dari lingkaran peringkat bawah yang telah bertahan selama belasan tahun.
Oleh: Abung Mamasa
Pemimpin Redaksi Harian Kandidat














