Yogyakarta, Charta.id – Keramaian di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, tampak berbeda dari biasanya. Ratusan orang mulai dari ibu menyusui, konselor, tenaga kesehatan, hingga aktivis organisasi perempuan berkumpul menggelar aksi damai memeringati Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week/WBW) 2026 dan Bulan ASI Nasional.
Diprakarsai oleh Sanggar ASI, gerakan bertajuk “Breastfeeding for a Sustainable Start in Life: Strengthen What Works” ini diisi dengan orasi publik, kampanye edukasi, hingga penggalangan tanda tangan petisi. Penggalangan petisi tersebut menyasar pemerintah, pelaku usaha, hingga fasilitas kesehatan agar lebih berpihak pada hak-hak ibu menyusui.
CEO Sanggar ASI, Raisika Riyanto, menegaskan bahwa narasi menyusui sudah saatnya keluar dari batas-batas kaku dinding klinik atau rumah sakit. Menurutnya, kegagalan menyusui kerap terjadi bukan karena ketidakinginan seorang ibu, melainkan akibat minimnya sistem pendukung di lingkungan sekitarnya.
“Selama ini edukasi menyusui sering kali identik dengan ruang klinik. Melalui aksi damai ini, kami ingin menunjukkan bahwa menyusui adalah isu publik yang membutuhkan dukungan seluruh lapisan masyarakat,” kata Raisika di sela-sela aksi, Sabtu (1/8).
Ia menambahkan, beban keberhasilan memberikan ASI eksklusif tidak bisa dibiarkan bertengger sendirian di pundak ibu. Lingkungan keluarga, budaya kerja, hingga regulasi tempat kerja dan fasilitas umum memegang peranan krusial.
Petisi yang digalang dalam aksi tersebut mendorong beberapa poin mendesak: penguatan kebijakan ramah menyusui, perluasan akses konseling, penciptaan ruang laktasi yang layak di tempat kerja, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan berbasis bukti ilmiah, serta pengikisan stigma terhadap ibu menyusui di ruang publik.
“Ketika seorang ibu didukung untuk menyusui, sesungguhnya kita sedang berinvestasi pada generasi yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih berkelanjutan,” ujar Raisika.
Aksi yang berlangsung pukul 06.30 hingga 10.00 WIB ini turut dihadiri sejumlah perwakilan lembaga, antara lain BPJS Kesehatan DIY, DPD PERSAGI DIY, akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), FORHATI DIY, serta Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) DIY.
Sanggar ASI sendiri merupakan social enterprise yang berdiri sejak 2014. Lembaga ini aktif mendampingi ribuan keluarga di Indonesia lewat edukasi, konseling menyusui, dan pelatihan kesehatan ibu-anak. Bagi Sanggar ASI, aksi di Titik Nol Yogya ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan pengingat rutin bahwa hak anak atas ASI adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.(*)














